Pekan Kerapian Siswa SMK NU Al-Hidayah Gebog: Peneguhan Disiplin dan Keteladanan
PEKAN KERAPIAN
(14 hours ago)
Views: 15

Pekan Kerapian Siswa SMK NU Al-Hidayah Gebog: Peneguhan Disiplin dan Keteladanan

Author: Ayu Jutika Sari

“Siswa organisasi tetapi melanggar peraturan sekolah”

SMK NU Al-Hidayah Gebog Kudus kembali melaksanakan kegiatan Pekan Kerapian Siswa sebagai upaya penegakan tata tertib dan pembentukan karakter disiplin. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 19 Januari 2026 untuk kelas X, Selasa, 20 Januari 2026 untuk kelas XII, serta kelas XI yang semula dijadwalkan Rabu dipindahkan ke Kamis, 22 Januari 2026. Pelaksanaan kegiatan berlangsung di teras A1 dengan menghadirkan tukang cukur.

Kegiatan ini menertibkan panjang rambut siswa laki-laki yang melebihi 3 sentimeter serta warna rambut siswa perempuan yang tidak sesuai ketentuan, yakni bukan berwarna hitam.

Wawancara dengan Guru Bimbingan Konseling (BK) SMK NU Al-Hidayah Gebog, Moh Annur Khoif, dilakukan pada Kamis, 22 Januari 2026, di lingkungan sekolah. Selain itu, turut diwawancarai perwakilan siswa yang melanggar aturan dari masing-masing jenjang kelas, yaitu Raditya Cahyo Budi Utomo (kelas XII), Kaisa Dzatin Najwa (kelas XI), dan Ahmad Fahmi Fauzul Mubaroq (kelas X).

Menanamkan Disiplin dan Tanggung Jawab

Guru BK SMK NU Al-Hidayah Gebog, Moh Annur Khoif, menjelaskan bahwa kegiatan pekan kerapian memiliki tujuan utama untuk membentuk karakter siswa.

“Tujuan utama dilaksanakannya pekan kerapian siswa di sekolah adalah untuk menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, serta kesadaran siswa terhadap pentingnya berpenampilan rapi sesuai tata tertib sekolah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa program ini penting dijadikan kegiatan rutin sebagai bentuk pembiasaan positif. “Melalui kegiatan yang berkelanjutan, siswa diharapkan memiliki kesadaran internal untuk disiplin, bukan sekadar patuh karena pengawasan,” jelasnya.

Menurutnya, pelaksanaan setiap tiga bulan sekali dinilai cukup efektif sebagai penguatan disiplin, terutama jika dilakukan setelah masa libur panjang. Dari hasil evaluasi, peningkatan paling terlihat pada kerapian seragam, atribut, serta kepatuhan siswa terhadap aturan sekolah.

Refleksi Siswa: Antara Malu dan Evaluasi Diri

Perwakilan siswa kelas XII, Raditya Cahyo Budi Utomo, mengaku merasakan campuran emosi setelah mendapat sanksi.

“Perasaan saya antara kesal dan pasrah. Mau bagaimanapun tetap aturan sekolah, jadi tidak bisa protes walaupun berharap untuk tidak dipanggil,” tuturnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keteladanan siswa organisasi. “Jika siswa organisasi melanggar aturan, itu akan memperburuk nama organisasi sekolah dan perlu ditindaklanjuti,” katanya.

Senada dengan itu, perwakilan kelas XI, Kaisa Dzatin Najwa, menyebut sanksi sebagai pelajaran berharga. “Rasanya pasti nyesek, tapi itu pelajaran. Bukan soal rambutnya, tapi soal integritas,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa pemimpin harus memberi contoh. “Seorang pemimpin dilihat dari tindakannya, bukan hanya jabatannya. Lead by example,” tegasnya.

Sementara itu, Ahmad Fahmi Fauzul Mubaroq dari kelas X menilai sanksi sebagai bentuk evaluasi diri. “Pasti ada rasa malu karena menjadi pusat perhatian, tapi ini momen bahwa aturan berlaku untuk siapa saja tanpa pengecualian,” ujarnya.

Menurutnya, organisasi perlu melakukan penertiban internal sebelum penertiban sekolah agar wibawa tetap terjaga.

Evaluasi dan Tindak Lanjut

Dari hasil evaluasi, kegiatan pekan kerapian dinilai memberikan dampak positif terhadap peningkatan kedisiplinan siswa. Namun, konsistensi pengawasan dan sosialisasi tata tertib tetap diperlukan agar hasilnya dapat dipertahankan.

Kegiatan ini tidak sekadar soal panjang rambut atau warna rambut, melainkan tentang pembentukan karakter dan keteladanan. Terlebih bagi siswa organisasi, tanggung jawab moral menjadi lebih besar karena mereka dipandang sebagai contoh bagi siswa lainnya.

Melalui pekan kerapian, sekolah berharap tercipta budaya disiplin yang tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar karena sanksi.

Kembali ke Beranda
favorite Suka