Beranda chevron_right Berita chevron_right PELATIHAN JURNALISTIK
PELATIHAN JURNALISTIK

Pelatihan Jurnalistik Edisi ke-26: Integritas dan “Ruh” Tulisan di Era AI

Pelatihan jurnalistik ke-26 menekankan pentingnya integritas, etika, dan kreativitas di era AI. Qomarul Adib menegaskan AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti ide. Jurnalis harus tetap mengutamakan wawancara, membaca referensi, dan menghindari hoaks. Jurnalisme komunitas perlu menyebarkan nilai positif. Generasi muda didorong aktif menulis dan bijak memanfaatkan teknologi.

person Oleh Ayu Jutika Sari calendar_today 23 Februari 2026 visibility 155 dibaca forum 0 orang berkomentar
Pelatihan Jurnalistik Edisi ke-26: Integritas dan “Ruh” Tulisan di Era AI

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), menjadi tantangan baru dalam dunia jurnalistik. Di tengah kemudahan akses informasi melalui smartphone dan berbagai platform digital, jurnalis dituntut tetap menjaga integritas dan keaslian karya.

Tim Jurnalistik SMK NU Al-Hidayah Gebog melakukan wawancara dengan Pelatih Tim Redaksi Suara Al-Hidayah, Qomarul Adib, pada Senin, 23 Februari 2026, di kediamannya. Wawancara tersebut membahas tantangan jurnalisme di era AI serta bekal penting bagi tim redaksi dalam menjaga etika dan kualitas tulisan.

AI: Tantangan Sekaligus Keniscayaan

Qomarul Adib menjelaskan bahwa produk jurnalistik merupakan karya, baik berupa berita, artikel, opini, maupun karya sastra. Namun, di era teknologi informasi yang berkembang pesat, AI menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari.

“Perkembangan informasi begitu cepat dan mudah diakses melalui smartphone. AI memudahkan proses penyusunan karya, tetapi sumbernya tidak selalu jelas. Karena itu harus diimbangi dengan wawancara kepada narasumber,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ketergantungan pada AI dapat mengikis kreativitas. “Jangan bergantung pada AI karena sama artinya dengan mengabaikan kreativitas kita sendiri. AI itu pendukung, bukan hal utama,” tegasnya.

Menurutnya, kerja-kerja jurnalistik seperti liputan dan wawancara tetap menjadi fondasi utama agar tulisan memiliki kejelasan sumber dan pernyataan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Memposisikan AI Secara Bijak

Menanggapi posisi AI dalam dunia jurnalistik sekolah atau pesantren, ia menyebut AI dapat menjadi ancaman sekaligus alat bantu.

“AI bisa jadi ancaman karena memberikan kemudahan yang membuat kita tidak mau berpikir. Tapi di sisi lain, AI juga membantu jika digunakan secara bijak,” katanya.

Ia mengingatkan agar pelajar tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi tersebut. Penggunaan AI sebaiknya sebatas pendukung, terutama dalam kondisi mendesak, bukan sebagai pengganti ide dan gagasan pribadi.

Bekal Krusial: Membaca dan Menjaga Etika

Dalam menjaga “ruh” tulisan, ia menekankan pentingnya memperbanyak membaca dan mencari referensi sesuai konteks yang akan ditulis.

“Kalau ingin menulis tentang puasa, maka pahami dulu bab puasa itu seperti apa. Dengan banyak referensi, kita tidak akan melenceng dari kaidah tulisan,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan agar tim redaksi menghindari hoaks serta informasi tanpa dasar yang jelas. “Kita tidak boleh menulis hoaks atau sesuatu tanpa referensi. Tulisan harus memberi pencerahan,” ujarnya.

Menurutnya, diskusi redaksi sangat penting, terlebih majalah Suara Al-Hidayah yang terbit tahunan harus disusun secara matang dan terurai dengan jelas.

Jurnalisme Positif Berbasis Komunitas

Sebagai Pemimpin Umum Suara Nahdliyin, ia memandang jurnalisme komunitas harus menyuarakan nilai positif, khususnya dalam bidang dakwah dan pendidikan.

“Kita menyuarakan informasi yang bernilai positif, terutama tentang pendidikan dan dakwah. Media berbasis komunitas harus menjadi sarana branding lembaga dan menyebarkan manfaat,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa media pendidikan harus menjadi ruang informasi yang membangun dan dapat dibaca oleh warga pendidikan secara luas.

Harapan bagi Generasi Muda

Menutup wawancara, ia berharap para peserta pelatihan jurnalistik edisi ke-26 tetap aktif berkarya dan menulis.

“Manfaatkan teknologi sebagai hal positif yang mencerahkan masyarakat, tetapi jangan jadikan sebagai bahan utama. Teruslah menulis setiap ada kegiatan di sekolah atau lingkungan sekitar,” pesannya.

Menurutnya, kebiasaan menulis harus dibangun sejak muda agar kemampuan jurnalistik terus berkembang.

Pelatihan jurnalistik ini menjadi momentum penting bagi tim redaksi untuk tetap menjaga integritas, etika, serta kreativitas di tengah perkembangan teknologi media yang semakin pesat. Di era digital, jurnalisme tidak hanya dituntut cepat, tetapi juga akurat, beretika, dan memiliki ruh keilmuan yang kuat.

Berita SMK AHA

Bagikan informasi ini kepada keluarga dan teman.

Suka dengan berita ini?

Beri apresiasi untuk informasi dari SMK AHA.

Ruang Diskusi

Komentar Pembaca

Sampaikan pendapat dengan bahasa yang baik dan sopan.

forum 0 Komentar
forum

Masuk untuk Berkomentar

Gunakan akun Google agar nama dan foto profil Anda tampil bersama komentar.

Masuk dengan Google
chat_bubble_outline

Belum Ada Komentar

Jadilah pembaca pertama yang memberikan tanggapan.

Portal Berita SMK AHA

Temukan Kabar Terbaru SMK NU Al Hidayah

Ikuti berita kegiatan, prestasi, teknologi, prakerin, dan informasi terbaru dari SMK AHA.

Semua Berita arrow_forward